Sering terhentinya distribusi dan kosongnya stok obat antiretro viral (ARV) dinilai karena ada masalah dengan sistem distribusi. Hal itu diungkapkan Deputi Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dr Vonny J Silvanus dalam konferensi pers peranan jaringan ODHA Nasional di Jakarta, Jumat (18/7).
Dr Vonny mengatakan, sejak 2004 distribusi ARV menggunakan stok dari pusat, jadi Depkes mendistribusikan secara langsung ke RS yang dituju. Akibatnya, di beberapa daerah ARV sering kosong karena terlambat datang. Selain itu, pihak RS sering terlambat meminta stok ARV ke Depkes. “Jadi meskipun ARV-nya gratis, tapi kalau terlambat datang bisa bahaya bagi penderita AIDS,” kata dr Vonny.
Menurutnya, pengidap AIDS harus minum ARV setiap 12 jam sekali seumur hidup. Jika berhenti mengonsumsi, virus HIV akan kebal terhadap obat dan penderita harus minum dalam dosis yang lebih tinggi.
Untuk membenahi masalah tersebut, kata dr Vonny, kini Depkes sedang membahas mengenai perubahan sistem distribusi ARV. Rencananya, Depkes akan mengontrol langsung ketersediaan ARV di dinas kesehatan provinsi selama enam bulan berikutnya. Dari dinas kesehatan provinsi baru ARV dikirimkan ke rumah sakit yang ditunjuk memberikan pelayanan kepada pengidap AIDS. Sistem distribusi ini akan dimulai dalam waktu dekat.
Filed under: kesehatan