Eksekusi terhadap Sumiarsih (60) dan Sugeng (44) sudah tak bisa diubah. Meski telah menjalani hukuman penjara sekitar 20 tahun, kedua terpidana mati dalam kasus pembunuhan Letkol (Mar) Purwanto dan keluarganya itu akhirnya tetap harus menghadapi regu tembak untuk menjemput ajal.
Berbagai upaya hukum, termasuk permohonan keringanan hukuman kepada Presiden (yaitu grasi), yang ditempuh telah kandas.
Yang mengagetkan, pihak keluarga Purwanto justru memberi maaf kepada para pelaku pembunuhan, yang terdiri dari enam orang itu. Selain Sumiarsih dan Sugeng, yang terlibat dalam kasus pembunuhan “satu keluarga oleh satu keluarga” pada 13 Agustus 1988 itu adalah Djais Adi Prayitno (suami Sumiarsih), Adi Saputro (menantu), Nano (keponakan Sumiarsih), dan Daim (orang kepercayaan).
“Pak Haryo bilang dia sudah memaafkan mereka. Dalam kaitan hubungan antarsesama manusia, Pak Haryo sudah tak ada masalah. Kini masalahnya tinggal menjadi urusan para pelaku dengan Tuhan. Sedangkan mengenai proses hukum terhadap mereka, Pak Haryo tak ingin ikut campur. Semua diserahkan sepenuhnya pada hukum yang berlaku,” kata Hakim kepada Surya, Rabu (16/7) malam.
Hakim adalah orang kepercayaan Haryo Abrianto, satu-satunya anak keluarga Poerwanto yang selamat dari pembunuhan. Haryo adalah anak sulung pasangan Poerwanto dan Sunarsih. Selain ibu dan bapaknya, adik-adik Haryo Abrianto, yaitu Haryo Bismoko (anak ke-2), Haryo Budi Prasetyo (anak ke-3), serta Sumaryatun (keponakan Poerwanto) ikut menjadi korban pembunuhan berencana itu.
Pembunuhan tersebut dipicu oleh permasalahan utang-piutang dalam pengelolaan bisnis Wisma Happy di kawasan prostitusi Dolly, Surabaya.
Haryo Abrianto selamat karena saat terjadi pembunuhan di Jl Dukuh, Kupang Timur XVII, Surabaya, itu dia masih menjalani pendidikan sebagai taruna AAL (Akademi Angkatan Laut) tingkat II di Bumimoro, Surabaya. Namun, karena faktor kejiwaan kehilangan kedua orangtua dan dua adiknya, setahun kemudian Haryo dikeluarkan dari taruna AAL.
Sebetulnya, melalui Hakim, sejak beberapa hari lalu Surya sudah berupaya untuk mengontak untuk bertemu langsung dengan Haryo, yang keberadaannya tak diungkapkan. Namun, menurut Hakim, Haryo tak ingin lagi ingatannya kembali ke tragedi masa lalu kendati cuma lewat wawancara atau pertemuan dengan media.
“Pak Haryo kini lebih fokus mengurusi bisnisnya. Dia tak ingin terusik oleh masalah itu lagi,” ucap Hakim.
Ditanya kondisi Haryo saat ini, Hakim yang diserahi sebuah usaha oleh Haryo mengatakan bahwa sahabat yang dikenalnya sejak lama tersebut kini sudah hidup tenang. Dia lebih banyak disibukkan dengan kegiatan bisnis.
“Pak Haryo kini menjalani hidup dengan tenang. Bayangan masa lalu yang kelam sudah lewat bagi dia. Tapi dia juga tak ingin diingat-ingatkan soal itu,” pesan Hakim.
Pascaperistiwa itu, Haryo sempat menderita tekanan batin yang berat. Untuk memulihkan kondisinya, Haryo sampai belajar mengaji di salah satu pondok di Mojokerto selama lima tahun.
Setelah batinnya stabil, Haryo memulai hidupnya dengan berwiraswasta. Sejak tiga tahun yang lalu, dia memutuskan pindah dari rumah lamanya di daerah Bratang Binangun, Surabaya. Namun sejak saat itu pula Haryo memutuskan merahasiakan alamatnya hingga sekarang.
Ketika ditanya apakah Haryo mengikuti perkembangan berita tentang eksekusi Sumiarsih dan Sugeng belakangan ini, Hakim hanya menjawab “Mungkin saja. Tapi, saya kira perhatiannya tidak dicurahkan ke situ.”
Ketika ditanya, seandainya hari ini Sumiarsih dan Sugeng masih belum dieksekusi, apakah Haryo mau menemui keduanya di Rumah Tahanan (Rutan) Medaeng, Hakim memastikan hal itu tidak mungkin. “Pak Haryo bilang beliau sudah memaafkan, jadi untuk apa bertemu lagi. Itu tidak mungkin,” ucap Hakim.(surya)
Filed under: berita
